Menngapa Harga Lada Bangka Terjun Bebas?

Dikirim oleh : Pan Budi Marwoto, STIE IBEK Pangkal Pinang, 12-06-2008


Dalam beberapa tahun terakhir harga lada bangka mengalami penurunan drastis. Penurunan harga ini dan maraknya pertambangan timah rakyat menyebabkan usaha tani lada banyak ditinggalkan petani, akibatnya produksi dan supply lada bangka ke pasar dunia merosot drastis. Jika pada era 90an, bangka mampu mensupply 60-80% lada putih ke pasar dunia, maka saat ini, supply tersebut menurun drastis hingga menjadi 15-20% saja. Pertanyaannya adalah faktor apakah yang menyebabkan penurunan harga lada tersebut?

Secara umum, penurunan harga ini sebenarnya tidak terlepas dari faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berkaitan dengan mekanisme pasar dan supply-demand lada di pasar internasional. Faktor internal berkaitan dengan struktur pasar lada di bangka yang cenderung oligopsoni.

Bagaimana mekanisme pasar dan supply-demand dapat mempengaruhi harga? Mekanisme pasar ini merupakan sebuah refleksi dari supply-demand. Pada saat supply melebihi demand, maka harga akan menurun dan begitu sebaliknya. Dalam konteks harga lada di pasar dunia, saat ini terjadi kecenderungan dimana supply lada memang melebihi demand. Bagaimana ini bisa terjadi? Mari kita lihat fakta yang terjadi saat ini.

Dari sisi demand, Benua Amerika terutama USA dan Kanada merupakan konsumen lada terbesar di dunia dengan jumlah konsumen sekitar 300 juta orang. USA mengimpor sekitar 55.000 ton lada, baik lada hitam maupun putih. Jumlah impor USA ini meningkat rata-rata 3% per tahun. Kanada mengimpor kira-kira 5.500 ton per tahun. Dari kedua negara ini saja, setidaknya diperlukan demand sekitar 60.000 ton. Jika trend ini di ekstrapolasi, maka pada 2010, total demand dari benua amerika akan mencapai 70.000 ton per tahun.

Berikutnya demand untuk pasar Eropa dan negara lain. Di negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa, jumlah konsumen lada mencapai sekitar 230 juta orang atau diperlukan demand sebanyak 48.000 ton per tahun. Jika negara-negara pecahan Uni Soviet dimasukkan, maka konsumsi akan mencapain 72.000 ton per tahun dan akan terus bertambah dengan pertumbuhan 1,5% per tahun. Pada 2010, total konsumsi Eropa diperkirakan mencapai 90.000 ton per tahun. Demand untuk negara lain di luar Amerika dan Eropa relatif kecil. Konsumsi Timur Tengah di estimasi hanya 6.000 ton, Asia-Oseania mengkonsumsi kira-kira 21.000 ton, Afrika 15.000 ton dan Amerika Selatan-Tengah 8.000 ton

Dengan menjumlahkan total demand diatas, kita akan sampai pada total konsumsi dunia di luar negara produsen yang mendekati angka 180.000 ton per tahun. Menggunakan trend tahun sebelumnya, konsumsi dunia akan meningkat rata-rata 2%/tahun. Sehingga jika di ekstrapolasi, pada 2010, diperlukan 225.000 ton lada.

Bagaimana supply lada dunia? Perdagangan internasional komoditi lada hanya tergantung kepada sedikit negara produsen, yaitu Brazil, Indonesia, Malaysia dan Vietnam. Produksi lada BrazilIndonesia berfluktuasi antara 10.200-36.000 ton, sedangkan lada putih antara 12.700-36.000 ton. Kemudian kita ke India, berproduksi sekitar 70.000-80.000 ton, namun jumlah konsumis domestik juga sebanding dengan produksinya sehingga India tidak melakukan ekspor. Malaysia secara mantap terus melakukan peningkatan ekspor dengan jumlah 24.000 ton/tahun. Terakhir adalah Vietnam yang merupakan eksportir terbesar lada di dunia hingga mencapai 70.000 ton. Negara-negara lain seperti China, Thailand, Kamboja, Srilangka, Madagaskar dan Ekuador hanya sedikit memasok pasar dunia dan hanya mencapai 10.000 ton. sangat fluktuatif tergantung siklus harga 5-6tahunan, dengan produksi 15.000-55.000 ton/tahun. Produksi lada hitam

Jika jumlah supply/ekspor berbagai negara produsen diatas dijumlahkan, maka dalam beberapa tahun terakhir, jumlah supply mencapai 190.000-200.000 ton. Atau telah terjadi oversupply yang mengakibatkan carry stock di pasar dunia sebanyak 10.000-20.000 ton dan berakibat meningkatnya stock ratio hingga 87%. Oversupply dan overstock inilah yang menyebabkan harga lada secara umum akan menurun. Persoalannya kemudian adalah bukankah itu untuk komoditi lada secara keseluruhan dan bagaimana dengan harga lada putih?

Pada kenyataannya, Supply-demand lada putih saat ini terkait erat dengan faktor subtitusi komoditi. Komoditi subtitusi sebagai kompetitor utama lada putih adalah lada hitam yang belakangan membanjiri pasar dunia dengan Vietnam sebagai motornya. Menjadi kompetitor karena tingkat harga lada hitam jauh lebih rendah dibandingkan harga lada putih. Sebagai perbandingan IPC (2003) mencatat bahwa pada tahun 2002, di pasar dunia, harga lada hitam adalah 81 US$ Cent per pound dan lada putih Bangka dihargai 109 US$ Cent per pound. Dengan tingkat penggunaan yang relatif sama, selisih harga yang tinggi tersebut membuat importir negara konsumen dan konsumen akhir di Amerika-Eropa cenderung lebih memilih untuk membeli lada hitam karena menawarkan harga yang lebih rendah. Bahkan International Pepper Community (IPC) mensinyalir karena tingkat penggunaan dan bentuk yang sama, sudah menjadi trend belakangan ini, terutama di Eropa dan Amerika sebagai konsumen akhir terbesar, untuk melakukan transformasi lada hitam ke lada putih. Kulit lada hitam dikelupas kemudian dijadikan bahan obat-obatan, sedangkan isinya dikeringkan dan dijadikan powder untuk fungsi yang sama dengan lada putih. Trend inilah yang kemudian menyebabkan seringkali terjadinya oversupply dan overstock lada di pasar dunia yang akan mempengaruhi harga lada putih Bangka.

Komoditi subtitusi ini menjadi faktor sangat penting karena produsen utama lada hitam dunia adalah Vietnam. Mengapa Vietnam menjadi faktor kunci? Ini disebabkan karena sebagai negara produsen, Vietnam tidak menjadi anggota IPC, padahal IPC secara tradisional seperti halnya OPEC pada minyaik mentah merupakan “kartel” atau forum lada internasional yang mengorganisir dan di dukung oleh sebagian besar negara produsen. Dengan demikian IPC tidak dapat memperbaiki tingkat harga dengan membentuk semacam price acceptable range. Akibatnya dalam perdagangan internasional, Vietnam nyaris melempar selruh produk ladanya ke pasar dunia tanpa terikat dengan komitmen IPC untuk melakukan standarisasi harga.

Lalu bagaimana faktor internal turut juga mempengaruhi harga lada bangka? Faktor internal ini berhubungan dengan kondisi lokalita pasar lada di bangka yang cenderung berbentuk oligopsoni yang ditandai dengan tidak terdapatnya integrasi atau keterpaduan antara pasar tingkat petani dengan eksportir. Hasil ini menginformasikan bahwa perubahan harga lada putih di tingkat eksportir tidak segera direspon dengan perubahan harga di tingkat petani. Artinya kenaikan harga jual eksportir tidak di respon atau tidak segera diikuti dengan kenaikan harga beli di tingkat petani. Sebaliknya penurunan harga jual eksportir akan segera di respon dengan penurunan harga beli dari petani. Dalam struktur pasar seperti ini, petani tidak memiliki posisi tawar yang baik. Lemahnya posisi tawar ini menyebabkan petani lebih bertindak sebagai penerima harga, sedangkan eksportir, yang dalam hal ini direpresentasikan oleh pedagang pengumpul yang merupakan agent-nya, bertindak sebagai penentu harga (price setter). Dengan demikian, untuk memaksimalkan keuntungan, maka setiap perubahan harga yang terjadi, tidak akan segera ditransmisikan oleh eksportir kepada harga tingkat petani. Sebaliknya harga jual di tingkat eksportir sangat ditentukan oleh harga pasar dunia. Kenaikan harga pasar dunia akan segera di respon dengan kenaikan harga jual eksportir, sebaliknya penurunan harga di pasar dunia akan segera dikuti dengan penurunan harga jual eksportir.

Kondisi riil diatas seharusnya disadari oleh pemerintah terutama pemerintah daerah, baik propinsi maupun kabupaten-kota untuk segera melakukan aksi guna mengatasi persoalan ini. Pembentukan KPB yang kontroversial, jikapun berhasil hanya cukup untuk mengatasi faktor internal. tapi tidak cukup untuk membantu petani untuk tetap menekuni usahataninya.


Artikel Lainnya