PERMINTAAN DAN PENAWARAN LADA BANGKA DI PASAR DUNIA

Dikirim oleh : Pan Budi Marwoto. STIE IBEK Pangkalpinang, 12-06-2008


Sebagai komoditi ekspor, lada putih Bangka mempunyai peranan penting bagi perekonomian wilayah, baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai sumber mata pencaharian utama bagi petani. Pada tahun 2000, volume ekspor lada Bangka ke berbagai negara konsumen seperti Jepang, AS, Singapura dan Masyarakat Eropa mencapai 34.763.575 kg, sehingga mampu menyumbang devisa sebesar US $ 124.373.008,5. Pada tahun 2001, meskipun harga lada terus merosot tetapi tetap mampu melakukan ekspor, sebanyak 28.607.175 kg dengan devisa US$ 60.101.563. Total devisa tersebut dihasilkan oleh 59.087 KK petani atau setara 295.435 jiwa atau 40,07 % dari total penduduk Kabupaten Bangka (sebelum pemekaran).

Dalam pengembangannya, komoditi lada ini seringkali dihadapkan pada permasalahan volume penawaran ekspor dan harga yang terus berfluktuasi. Jika dilihat dari perkembangan volume penawaran dan nilai ekspor lada di pasar dunia, lada putih yang 60-80% diantaranya berasal dari Bangka, memiliki angka laju pertumbuhan yang relatif lebih tinggi dibandingkan lada hitam, yaitu secara rata-rata masing-masing sebesar 14,68% dan 20,29%, sedangkan lada hitam sebesar 14,60% dan 19,26%. Meskipun pertumbuhan volume dan nilai ekspor rata-rata lada putih relatif lebih tinggi dibandingkan lada hitam, tetapi fluktuasinya relatif lebih besar. Hal ini berarti perekonomian lada putih memiliki tingkat ketidakpastian yang juga lebih besar. Jika hubungan ini dapat ditarik secara linear, itu berarti pendapatan sekitar 59.087 KK petani lada menjadi tidak menentu atau kehidupan 295.435 jiwa atau 40,07 % penduduk Bangka mengalami uncertainty.

Oleh karena itu pemahaman tentang perilaku penawaran dan permintaan lada putih yang selalu berubah ini menjadi sangat penting, terutama dalam perencanaan pengembangan komoditi dan kesejahteraan masyarakat petani kecil. Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah pemerintah daerah, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten memahami perilaku penawaran dan permintaan lada putih di pasar dunia? Bisakah pemerintah daerah, memahami perilaku penawaran dan permintaan lada putih di negara kompetitor ekspor utama seperti Malaysia, Brazilia dan Singapura ?. Bisakah pemerintah daerah, memahami perilaku penawaran dan permintaan lada Bangka di lima negara konsumen utama lada Bangka seperti USA, Jerman, Jepang, Belanda, dan Singapura?

Menggunakan alat estimasi ekonometrika diketahui bahwa, produksi lada putih asalan Bangka hanya responsif terhadap perubahan produktivitas jangka panjang. Dalam jangka panjang, produktivitas mengalami banyak perubahan seiring makin berkembangnya teknologi, akibatnya produksi dapat disesuaikan dengan cepat ketika terjadi perubahan produktivitas. Produksi dipengaruhi oleh harga tingkat petani, harga pupuk, produktivitas dan produksi lada tahun sebelumnya. Sedangkan suku bunga, upah tenaga kerja dan curah hujan tidak berpengaruh nyata. Fenomena ketidakberpengaruhan ini disebabkan karena sebagian besar petani menggunakan modal sendiri atau melalui kontrak farming. Demikian juga dalam hal tenaga kerja, umumnya petani menggunakan tenaga kerja keluarga. Dengan demikian dari sisi penawaran/produksi, upaya meningkatkan produksi dan penerimaan petani sebaiknya diarahkan pada peningkatan produktivitas, baik melalui perbaikan teknologi maupun melalui proteksi input produksi.

Dalam konteks penawaran ekspor, diketahui bahwa ekspor lada putih Bangka ke lima negara tujuan ekspor utama sebagian besar dipengaruhi oleh produksi, volume reekspor lada putih Singapura dan ekspor lada putih tahun sebelumnya. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tidak berpengaruh, hal ini disebabkan oleh beberapa alasan; Pertama, lada merupakan komoditi ekspor dengan kebutuhan domestik yang relatif tetap dan kecil. Kedua, membutuhkan biaya penyimpanan yang cukup besar sementara fasilitas penyimpanan belum tersedia dengan baik, sehingga eksportir cenderung akan tetap mengekspor meskipun terjadi perubahan nilai tukar. Ketiga, relatif rendahnya persaingan perdagangan di pasar dunia, apalagi kontribusi ekspor lada putih Bangka masih mendominasi.

Harga ekspor lada dan suku bunga hanya berpengaruh terhadap penawaran ekspor ke Jerman. Hal ini disebabkan Jerman adalah importir lada putih terbesar ke dua di pasar dunia yang sangat ketat dalam hal mutu lada yang di impor, oleh karenanya, harga ekspor dan suku bunga menjadi faktor pertimbangan penting.

Faktor lain yang harus diwaspadai oleh petani dan pemerintah adalah adanya fenomena subtitusi lada putih oleh lada hitam. Subtitusi ini terjadi karena selisih harga keduanya yang hampir mencapai US $0,5/Kg. Harga yang lebih rendah mengakibatkan konsumen lebih memilih lada hitam, karena penggunaan yang hampir sama. Hal ini terbukti dari fakta bahwa harga ekspor lada hitam Indonesia berpengaruh nyata terhadap penawaran ekspor lada putih ke USA dan Singapura. Kenyataan ini menunjukkan bahwa lada putih dan hitam menjadi kompetitif pada pasar ke dua negara, sehingga bila terjadi kenaikan harga lada putih maka akan menyebabkan harga lada hitam menurun terutama pada kedua negara tersebut.

Volume reekspor lada putih Singapura berpengaruh terhadap penawaran ekspor lada Bangka ke USA, Belanda dan Jepang. Kondisi ini menunjukkan bahwa singapura adalah kompetitor utama pada pasar ke tiga negara tujuan ekspor tersebut, padahal Singapura bukanlah negara produsen dan sebagian besar ekspornya berasal dari Bangka. Diantara penyebabnya adalah karena jarak yang relatif dekat yang memungkinkan dilakukannya ekspor setiap hari, juga disebabkan karena sebagian besar mutu lada bangka adalah mutu FAQ (fair average quality), sehingga eksportir cenderung mengekspor lada ke negara yang tidak begitu ketat dalam mutu seperti Singapura. Dugaan kuat penyebab lainnya yang menjadi wacana di Bangka belakangan ini adalah adanya kontrak pemasaran antara importir Singapura dengan eksportir Bangka. Mutu lada yang telah di impor Singapura akan di up grade sesuai dengan permintaan negara importir. Kondisi ini didukung oleh fasilitas jaringan komunikasi, jasa perhubungan, lembaga perbankan serta keahlian dalam perdagangan yang dimiliki singapura. Akibatnya volume reekspor Singapura tersebut akan mempengaruhi ekspor lada Bangka pada ketiga negara tersebut. Benarkah dugan bahwa Singapura ikut bermain dalam penentuan harga lada tingkat petani?


Artikel Lainnya