Investasi Bidang Perkebunan
Kontribusi PDRB terbesar kedua setelah sektor pertambangan di Kabupaten Bangka disumbangkan oleh sektor pertanian yang didominasi oleh sub sektor perkebunan dengan kontribusi sebesar 23,80%. sub sektor perkebunan memiliki arti dan peran strategis untuk menunjang perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bangka. Komuditas unggulan perkebunan rakyat telah ditekuni berabad-abad secara turun temurun oleh masyarakat di Kabupaten Bangka adalah karet dan lada. Berikut ini komoditas yang dapat dikembangkan di bidang perkebunan, yaitu Karet, Lada, Kelapa, Cengkeh, Kemiri dan Aren.
| No. | Jenis Komoditi/Produk | Luas lahan yang tersedia | Lahan yang sudah digarap | Lahan Potensial | Lokasi Lahan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | Lada | 24.339,09 |
13.725,00 |
10.614,09 |
Kec. Belinyu |
| 2. | Karet | 36.984,32 | 18,314,35 | 18.669,97 | Kec. Mendo Barat |
| 3. | Kelapa |
3.524,52 |
1.765,00 |
1.759,52 |
Kec. Merawang |
| 4. | Cengkeh | 7.831,84 | 3.922,00 | 3.909,84 | Kec. Bakam |
| 5. | Kemiri | 12.001,36 | 6.010,00 | 5.991,36 | Kec. Puding Besar |
| 6. | Aren | 2.364,32 | 1.184,00 | 1.180,32 | Kec. Pemali |
Sumber : Badan Penanaman Modal Kab. Bangka
Komoditi Lada
Kabupaten Bangka sejak dulu terkenal selain dikenal dengan salah satu daerah penghasil timah juga dikenal sebagai daerah penghasil lada putih bahkan Pulau Bangka merupakan daerah penghasil lada terbesar didunia dengan nama Muntok White Pepper, hal ini sangat beralasan karena secara turun temurun penduduk Bangka sudah terbiasa dalam pengelola lada putih. Untuk pengembangan untuk komuniti ini, lahan yanng potensial seluas 24.339,09 Ha, sedangkan lahan yang sudah diusahakan baru mencapai 13.725 Ha(56,40%). Dengan demikian luas lahan yang masih tersedia untuk pengembangan komoditas lada sebesar 10.614,09 Ha(43,60%). Adapun lokasi lahan yang ada untuk komoditas lada tersebar hampir disemua kecamatan Kabupaten Bangka.
Pada tingkat bunga 24 persen keuntungan dengan nilai kini (NPV) yang diterima petani adalah Rp. 4,12 juta/Ha dengan nilai B/C 1,23. Apabila tingkat bunga menjadi 30% besar NVP hanya Rp.1,07 Juta/Ha dan B/C hampir mencapai titik keritis yakni 1,06. pada tingkat imput-output aktual,titik impas usaha tani siklus 7 tahun terjadi pada tingkat bunga/IRR 32,49 persen. Indikator kelayakan ini dapat di duga bahwa untuk meningkatkan pemeliharaan kebun dan produktifitas tidak mudah bagi petani,karena rendahnya kemampuan untuk memupuk modal. Hal ini memperjelas bahwa saat ini petani lada membutuhkan skim kredit berbunga rendah, dengan catatan harga output dalam jangka pendek tidak bergerak naik keatas Rp.25.000/kg.
Komoditi Karet
Lahan yang potensial untuk komuditi ini seluas 36.984,32 Ha, sedangkan yang sudah diusahakan seluas 18.314,35 Ha(49,50%). Artinya masih tersedia lahan seluas 18.669,97 Ha (50,50%) untuk pengembangan komoditas karet. Lokasi lahan pengembangan komoditas karet di Kabupaten Bangka menyebar hampir di semua kecamatan, hanya yang paling dominan di kecamatan mendo barat. Seperti daerah lain umumnya tanaman karet memerlukan waktu 5-6 tahun untuk dapat di sadap, oleh karena itu pembngunan perkebunan karet memerlukan investasi jangka panjang engan masa tenggang 5-6 tahun komoditas lada tersebar hampir di semua kecamatan di Kabupaten Bangka.
Dengan asumsi tingkat produksi rata-rata 1.576 kg karet kering /Ha/Tahun, harga FOB SIR 20: US$ 1,70/ kg dan kurs: Rp. 9500/ US $ dan harga di tingkat petani 80% FOB, lada discount rate yang ditentukan yaitu sebesar 18% perhitungan nilai IRR dan NPV berdasarkan pada arus kas selama 30 tahun dengan asumsi biaya tetap, namun harga jual menggunakan 3 skenario yaitu: harga naik 20 %, harga saat ini dan harga turun 10 %.