Kondisi Sosial Masyarakat

Corak masarakat Bangka dapat dibedakan dari segi sumber penghidupannya. Jenis-jenis mata pencaharian pokok di daerah ini adalah bertani, nelayan, buruh/karyawan tambang dan berdagang.

Penggalian timah terdapat dimana-mana, di seluruh daratan pulau sampai di perairan lepas pantai, sehingga pekerjaan sebagai buruh bukan lagi merupakan masyarakat kota, tetapi juga dilakukan oleh penduduk di desa-desa dan di daerah pesisir. Tidak mengherankan jika ada karyawan tambang disamping pekerjaan mereka di Parit atau di Kapal Keruk, giat pula bercocok tanam ataupun menangkap ikan di luar jam kerjanya ataupun berdagang. Namun sejak adanya reorganisasi PT. Timah jumlah penduduk yang bekerja pada PT. Timah menjadi berkurang.

Tanah Pulau Bangka sangat cocok untuk tanaman-tanaman perdagangan seperti Karet, Sahang (Lada), Kelapa, Kelapa Sawit dimana sebagian besar hasil tanaman ini diperdagangkan keluar daerah atau keluar negeri yang merupakan sumber penghidupan petani yang sangat berarti, sehingga mendorong mereka untuk meningkatkan usaha dalam bidang pertanian ini.

Keadaan ini menimbulkan perbedaan corak kehidupan sosial antara masyarakat petani tanaman-tanaman perdagangan ini dengan masyarakat petani ladang.

Disamping itu kayanya perairan Pulau Bangka dengan berbagai jenis ikan selalu menarik kaum nelayan dari daerah-daerah lain, misalnya kaum nelayan suku Bugis. Pada mulanya mereka hanya sekedar datang pada waktu panen ikan, tetapi lama-kelamaan mereka kemudian menetap dan membaur dengan masyarakat serta membuat perkampungan sendiri.

Karena bukan merupakan daerah dengan padang rumput yang baik, maka untuk kebutuhan daging bagi masyarakat, sapi potong didatangkan dari Madura, Bali, Sumbawa maupun Lombok dan Sumatera Selatan sendiri. Terlebih-lebih pada waktu menghadapi hari-hari lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha), maka kebutuhan akan daging sapi sangat terasa. Hal ini kemudian menimbulkan daya tarik bagi orang-orang Madura untuk menjadi pedagang dan peternak sapi di Bangka, disamping bercocok tanam sayur-sayuran dan palawija terutama jagung.

Usaha dagang pada umumnya dilakukan oleh masyarakat Bangka keturunan Cina, tidak saja mereka berusaha dikota-kota, tapi juga mereka masuk ke desa-desa.

Diberbagai pantai tertentu menetaplah orang-orang Cina ini yang melakukan penangkapan ikan dan beternak babi serta menanam sayur-sayuran.

Keterbukaan masyarakat Bangka akan pendatang-pendatang telah menjadikan pulau ini bercorak heterogen. Di pulau ini terdapat berbagai jenis suku bangsa, membaur dan berkembang. Disamping orang-orang dari suku Bugis, suku Madura, suku Butun, terdapat suku Jawa, Bali dari daratan Sumatera (Batak, Aceh, Palembang, Padang, dan lain-lain), Ambon dan sebagainya.

Dalam masyarakat yang majemuk inilah, segala gerak langkah kehidupan berkisar pada usaha pencaharian nafkah. Setiap individu tampaknya selalu sibuk dan giat bekerja. Komplek perumahan karyawan yang dibangun disekitar pertambangan yang kadang jauh terpisah dari kampung-kampung, membawa corak atau bentuk kehidupan yang lain. Tetapi hal yang nampaknya seperti pemencilan ini ternyata tidak pernah membawa pengaruh atau menimbulkan hal-hal yang negatif oleh karena komunikasi selalu terpelihara dengan baik.

Disamping membangun jalan-jalan, pihak perusahaan menyediakan fasilitas-fasilitas yang memadai, antara lain sekolah, listrik maupun telepon. Karena itu tidak mengherankan apabila di tempat-tempat yang jauh dari perkotaan terdapat lampu listrik yang terang benderang. Namun demikian, dalam setiap lingkungan masyarakat yang bagaimanapun coraknya, suasana tradisional masih dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat Bangka, terutama di kampung-kampung.

Semangat dan kegiatan gotong-royong masih terpelihara dan tumbuh dengan baik. Motto “Sepintu Sedulang” yang terdapat pada lambang Pemerintah Kabupaten Bangka, memberikan makna yang mencerminkan segi kehidupan sosial masyarakat Bangka yang berdasarkan semangat gotong-royong itu.

Pada waktu hari-hari besar, sedekah kampung maupun pada waktu diadakannya “Kawin Massal”, kondisi kegotong-royongan ini masih sangat terasa.

Didalam kemajemukan masyakat dan terpeliharanya semangat kegotong-royongan telah menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan yang mendalam. Sepanjang perjalannya daerah ini tidak pernah terdapat tindakan-tindakan yang mengarah pada SARA meskipun diketahui disamping banyak suku-suku, juga terdapat berbagai pemeluk agama.

Islam merupakan agama yang dominan pemeluknya disamping penganut agama Kristen, Hindu, Budha maupun aliran kepercayaan Kong Hu Cu.

Tradisi Pek Cun yang dilakukan oleh masyarakat Cina masih terus terpelihara, dimana pada hari-hari itu masyakat Cina beramai-ramai pesiar ke pantai, dalam rangka menajalankan kepercayaannya.

Dari segala itu tertib sosial terus terpelihara dengan baik. Dan malahan dari kondisi-kondisi sosial ekonomi dan budaya seperti yang diuraikan, telah dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah untuk lebih memantapkan rasa persatuan dan kesatuan serta untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan di segala kehidupan.